Maruli Damanik Ketua DPD ASPPI Sumut

No comment 435 views

maruli-damanik_20161011_153318Belasan tahun silam, lelaki ini hanya dikenal sebagai penjaja rokok atau tukang semir sepatu di Siantar, bergentayangan di bawah bayang-bayang lampu merah, dan bersahabat dengan hujan atau rembulan. Beberapa tahun kemudian ia naik pangkat jadi tukang cuci piring di Hotel Tiara Medan. Naik pangkat lagi, jadi pemandu wisata. Namun sejak tahun 2003, ia mulai merintis sebuah bendera usaha dengan nama Lovely Holidays, sebuah perusahaan muda yang “melompat” cepat ke tangga papan atas industri perjalanan di Sumatera.

Tapi Maruli Damanik—demikian nama lelaki itu—rupanya tidak begitu menyukai kata “melompat”.

“Saya sejujurnya tidak melakukan lompatan. Usaha ini melewati anak-anak tangga yang teratur, melalui kesulitan, menguras tenaga, pikiran, dan mendewasakan orang-orang yang terlibat di dalamnya, termasuk saya sendiri,” ungkapnya .

Foto Ahmadinejad, Presiden Iran yang terkenal vokal dengan segala kebijakan Amerika itu, terpampang di dinding kantornya. Air conditioner berdesis begitu dingin, dan barangkali hal itu telah mempengaruhi cara berpikirnya ketika itu. Karena biasanya, Maruli yang dikenal orang adalah seorang marketer yang meletup-letup, mesin ide, dan membuat semua yang bicara dengannya menjadi percaya bahwa segala sesuatu bisa diwujudkan.

Dunia yang keras adalah dunia Maruli, terutama dalam pengertian melepaskan diri dari ketergantungan. Sejak kecil ia sudah berusaha mandiri, meski harus dengan cara mengais-ngais rezeki. Barangkali sifat itu pulalah yang membuatnya ketemu hati dengan sepak terjang Ahmadinejad yang ia ikuti lewat televisi.

“Saya kurang suka menggantungkan diri pada orang lain, tapi saya sangat suka bersahabat dengan siapa saja tanpa melihat kelas. Itulah yang saya sukai dari Ahmadinejad. Dia berani melepaskan bangsanya dari campur tangan negara besar, tapi meskipun beliau berhasil menempatkan dirinya sebagai orang yang patut diperhitungkan dalam perpolitikan dunia, kesederhanaan yang melekat semenjak beliau belum terkenal tetap terbawa hingga kini. Satu hal yang sangat sulit mungkin dilakukan jika seseorang memiliki posisi penting dan kehidupan mapan. Buat saya, kepribadiannya sesuai dengan saya,” ujarnya.

Kehidupan yang keras pada umumnya akan membentuk ikatan-ikatan solidaritas. Dalam industri pariwisata, Maruli pun menunjukkan gejala-gejala itu. Ketika ia melihat sejumlah perusahaan baru mencoba tumbuh dalam industri yang sama, perasaan yang tumbuh pertama dalam dirinya bukanlah keinginan berkompetisi atau memelihara kepengecutan dengan niat merugikan usaha orang lain.

“Oh, tidak. Saya harus lebih besar dari rasa takut saya. Jauh dari rasa bersaing, ketika melihat mereka saya malah teringat masa lalu saya yang sulit, dan mereka sedang berada pada tahap merintis seperti saya dulu. Untuk membantu mereka, saya menawarkan sinergi usaha, paket-paket bersama, dan membagi kiat-kiat pemasaran yang dapat saling menguntungkan,” kata pria kelahiran 4 Oktober 1970 ini.

Menurut Maruli, industri pariwisata adalah sebuah sektor ekonomi yang unik. Semakin banyak orang menjual produk atau tujuan wisata yang sama, pasarnya bukan malah menyempit, sebaliknya justru membesar. Oleh sebab itu, semakin banyak travel agent yang menjual dan mempromosikan daerah kita, maka semakin banyak pula orang yang akan tertarik datang ke sini. “Kita tidak boleh serakah. Kita harus bekerjasama,” katanya.

Doktrin itu pulalah yang ingin ia sampaikan kepada puluhan pengusaha travel agent dan hotelier di Medan dalam acara-acara informal yang mereka laksanakan. Untuk melakukan gathering dan membina kebersamaan itu, Maruli tidak segan-segan menambah pengeluaran tambahan dari perusahaannya. “Kita akan rutin melakukan kegiatan bareng sambil memperkenalkan destinasi-destinasi baru di Sumatera. Saya sangat senang karena teman-teman travel agent dan para hotelier cukup bersemangat dengan kegiatan informal ini,” katanya.

Bukan hanya gathering sesama pengusaha agen perjalanan, Maruli juga acap menyelenggarakan promosi sendiri di luar negeri, terutama pasar utamanya Malaysia. “Saya tidak terbiasa bekerja lambat. Apabila ada yang mungkin saya lakukan sendiri, saya akan melakukannya. Bila itu memberikan manfaat lebih luas bagi dunia pariwisata kita, maka itu adalah bonus. Saya lebih suka berpikir sederhana daripada mempertimbangkan aspek-aspek politis, kekuasaan, dan hal-hal rumit yang tidak ada kaitannya dengan industri ini,” jelasnya.

Politisi itu berbicara. Akademisi itu berpikir dan meneliti. Pemimpin itu melindungi. Montir itu berlumur oli. Begitu seterusnya.

“Saya lulusan akademi pariwisata, tapi itu bukan modal yang kuat untuk terjun di sini. Pengalaman menjadi guide selama lebih kurang sepuluh tahunlah yang membuat saya berani terjun. Potensi alam yang kita miliki membuat saya optimis negara kita masih tetap menjadi pilihan wisatawan untuk datang,” ujarnya.

Maruli memang satu dari sosok entrepreneur yang unbreakable yang dimiliki Sumatera. Ia memulai bisnis pariwisatanya justru ketika kunjungan turis ke pulau ini sedang berada pada titik kritis. Namun ia berhasil keluar dari situasi itu dan bertunas. Kerja keras dan terjun langsung membuat usahanya tumbuh. Setiap masalah yang muncul hanya membuat ia semakin kuat. Selain sabar, dia memiliki otak yang tak pernah diam. Satu alternatif gagal, maka ada alternatif lain. Ketika pasar Malaysia-nya hancur oleh letusan Gunung Sinabung dan isu sweeping warga Malaysia di Jakarta, justru pada saat itulah Maruli melengkapi produk inbound-nya dengan menambah divisi outbound yang sebelumnya tak begitu prioritas. Kehancuran pasar itu malah membuatnya tambah kuat, sehingga beberapa pihak mempercayainya sebagai whosaler hotel dan  terpilih menjadi mitra khusus penerbangan Air Asia di Medan.

“Saya tidak percaya jalan buntu. Yogyakarta dan Mentawai boleh saja terkena bencana. Namun kita di Sumatera Utara, seharusnya menjadikan ini peluang untuk menarik wisatawan yang sebelumnya tidak terpikir datang ke Sumatera. Ingat kasus Thailand yang mengalami masalah politik beberapa bulan lalu. Kita sebagai negara tetangganya mendapat imbas dengan beralihnya tamu mereka ke negara kita,” urainya.

Meski banyak bencana yang menimpa negeri ini, menurut Maruli, semangat untuk terus mempromosikan wisata Indonesia tidak boleh kendur. “Ini bukan naif, tapi jika bukan orang-orang yang berkutat di pariwisata yang bergerak, siapa lagi? Apa kita harus menunggu semua tamat? Sementara kita masih punya modal untuk bangkit. Jika pemerintah tak mau tahu lagi, maka ayo, pihak swasta bekerja sama membangunnya. Karena di sini memang dapur dan penghidupan kita, jadi kitalah yang menjaganya. Di samping itu, karena bisnis ini juga menyerap banyak tenaga kerja baik secara langsung atau pun tidak, ia menjadi kepentingan daerah juga,” ungkapnya.

Hingga hari ini, sang direktur, tidak pernah canggung turun langsung untuk meng-handle tamu, bahkan bertindak sebagai tour guide-nya. Suatu kali, busnya telah mogok di tengah jalan antara Tebingtinggi dan Parapat lantaran buruknya kondisi jalan. Ia ingat saat wisatawan protes karena kecewa dan kelelahan. Protes itu bisa berdampak buruk pada bisnisnya karena rombongan yang ia bawa dari Malaysia adalah grup yang penting. Maruli tak habis akal. Ia langsung menggunakan trik dengan mengakui jeleknya jalan, akan tetapi itu akan membuat perjalanan tersebut lebih mengesankan karena kondisi seperti itu hanya ada di Indonesia.

”Akhirnya mereka tertawa dan melupakan kekesalan tadi…he…he…he…Bulan berikutnya mereka datang lagi dan masih memakai Lovely Holidays,” katanya tergelak mengingat peristiwa sial itu.

Itulah Maruli dalam bisnis dan sepak terjangnya di bidang pariwisata. Di balik itu, ia adalah seorang pemimpin keluarga yang hangat, ayah dari Kevin Damanik, Rizki Damanik dan Agung Damanik. Untuk tiga nama itulah dan untuk seorang perempuan yang dicintainya, ia bisa mengerem pekerjaannya.

“Bila istri dan anak-anak membutuhkan kehadiran saya, pekerjaan menjadi  nomor dua. Bagi saya keluarga adalah segalanya. Apa yang saya lakukan saat ini semua untuk keluarga.  Maka kemana pun saya pergi, selama bisa membawa keluarga, pasti saya bawa,” ujar suami dari  Hefriana Rimenda Surbakti ini.

Maruli boleh jadi bukan satu-satunya orang yang peduli dengan pariwisata kita yang kini tengah terpuruk. Tapi mungkin dia adalah salah satu yang rela merogoh kocek pribadi untuk mempromosikan pariwisata kita hingga keluar negeri tanpa berharap penghargaan apapun, kecuali ingin melihat industri pariwisata kita maju seperti di era 80-an lalu.