Desa Marente: Air Terjun yang Memikat dan Situs Majapahit

Desa Marente merupakan desa wisata yang memiliki panorama air terjun yang indah. Foto: Robby Sahrullah

Selama empat hari, sebanyak 150 orang pengusaha perjalanan wisata nusantara dan mancanegara berada di Lombok dan Sumbawa.

Mereka menjadi buyers dalam Lombok Travel Mart (LTM) VII – 2020 Magical Moyo, yang berlangsung Minggu-Rabu, 1 – 4 Maret 2020. Pasar wisata itu diselenggarakan oleh Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia Nusa Tenggara Barat (ASPPI NTB). Untuk yang pertama, LTM dihelat di Sumbaya, yang biasanya selalu dihelat di Lombok.

Diawali dengan table top di Mataram, sehari sebelumnya, pada Minggu, 1 Maret 2020, para buyers diajak ke Kabupaten Sumbawa. Mereka selama dua hari mengunjungi Desa Wisata Marente, dilanjutkan pelesiran ke Pulau Moyo — yang pernah diinapi Lady Diana dan selebritas dunia lainnya.

Wakil Ketua LTM VII – 2020 Magical Moyo, Leja Kodi alias Ingoe menyebutkan, Sumbawa yang diketahui panas dan gersang ternyata memiliki Desa Marente yang sejuk, “Memiliki potensi kopi dan air terjun yang konon tertinggi di Indonesia,” kata Ingoe kepada TEMPO, pada Kamis, 5 Maret 2020 petang.

Desa Marente adalah desa kelahiran Gubernur NTB, Zulkieflimansyah – jaraknya tiga kilometer dari kota Kecamatan Alas atau 76 kilometer selatan dari kota Sumbawa Besar. Marente singkatan dari Maras Rena Nyaman Ate artinya asyik dan menyenangkan hati. Sejak 2014, Marente telah menjadi desa wisata. Lalu ditetapkan jadi desa wisata bersama 90 desa lainnya oleh Gubernur NTB Zulkieflimansyah, pada 2018 lalu.

Pada hari kedua, Senin, 2 Maret 2020. Sekitar pukul 08.00, ratusan pelaku usaha pariwisata tersebut berada di dalam hutan pohon jati, di dalam kawasan Kawasan Pengelolaan Hutan (KPH) Puncak Ngengas. Mereka berjalan kaki sekitar 60 menit untuk menikmati sarapan pagi dan kopi Agal nama salah satu air terjun di Desa Marente.

Mereka makan pagi dengan menu tradisional setempat, berupa pepes ikan sidat, pecel budak dari pucuk rotan, soto blunak yang mirip talas — yang lokasi tumbuhnya hanya ada di sekitar air terjun yang ada di Desa Marente.

Mereka juga menikmati tiga kue: kue lepat yang isinya nasi dibakar atau direbus dibungkus daun, lalu janda bernang yang terbuat dari tepung beras dicampur pisang atau roti. Kue sanggar ai, berupa pisang dibaluti terigu, kemudian direbus. Lalu di atasnya ditaburi parutan kelapa.

Minumannya, selain kopi adalah teh dari Lonto Kebo Karong — sejenis kayu bajaka di Kalimantan — yang di Marente dipercaya bisa menyembuhkan obat sakit pinggang, nyeri badan. Kayu kebo direbus ditambahi jahe, hingga warnanya merah, lalu diminum.

Tempat bersantai sambil menikmati keindahan alam di Amanwana Resort , Labuhan Aji, pulau Moyo, Sumbawa, (4/11). Pulau Moyo merupakan tempat berlibur yang menawarkan keindahan laut dan biotanya, juga hutan yang masih alami. TEMPO/Rully Kesuma

Desa Marente menjadi desa wisata berawal dari maraknya penebangan hutan ilegal di dekat mata air. Lalu, pemuda setempat menggagas pembentukan desa wisata agar penebang ilegal menjauh dari desanya.

Di hutan desa itu, terdapat Air Terjun Saketok, yang berjarak 45 menit berjalan kaki dari Desa Marente. Sementara Air Terjun Agal memerlukan waktu 1,5 jam dan terakhir adalah Air Terjun Sebra, yang jauhnya enam jam berjalan kaki, “Sering didatangi khusus adventure oleh Wanadri Bandung,” kata Wakil Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sagara, Robby Sahrullah.

Air terjun Saketok ketinggiannya mencapai 30 meter, yang terdiri dari tiga tingkatan. Air Terjun Agal lebih jangkung lagi, ketinggiannya mencapai 250 meter. Disebut air terjun yang unik karena memiliki 10 tingkatan. Dan terakhir, Air Terjun Sebra setinggi 320 meter yang terdiri empat tingkatan.

Sebra dikunjungi khusus mereka yang melakukan trekking karena jaraknya enam jam dari Desa Marente, “Katanya, ketinggiannya mengalahkan air terjun Sigura-gura di Sumatra Utara,” ujar Robby Sahrullah, pemuda setempat yang alumni Bio Teknologi Universitas Teknologi Sumbawa.

Rerata, air terjun itu dikunjungi 50 wisatawan per harinya. Dan jika Sabtu – Ahad, pengunjunganya hingga lebih 200 orang.

Sungai Tiu Kele, yang mengalir dari air terjun itu, melintasi dekat Desa Marente, yang dimanfaatkan warga untuk river tubing. Wisata susur sungai itu, diminati wisatawan. River tubing ditawarkan dalam beberapa paket. Paket pertama sejauh 1 kilometer dibandrol Rp50.000 per orang. Paket kedua, sejauh 2 kilometer dipungut Rp75.000 per orang.

Saat ini untuk biaya wisata di Desa Marente, antara lain tiket masuk air terjun Rp 150.000 per grup maksimal lima orang. Kalau enam orang lebih atau hingga 10 orang dihitung dua grup. Masing-masing didampingi seorang pemandu. Lainnya untuk wisata di lokasi bendungan Bringin Kembar dan Tiu Kele, hanya dikenai parkir Rp2.000 per motor dan Rp5.000 untuk mobil.

ADVERTISEMENT

Robby Sahrullah juga mengungkapkan, Desa Marente juga memiliki potensi sebagai desa penghasil kopi. Desa itu, merupakan penghasil kopi terbesar kedua di Sumbawa. Desa Marente juga bisa dijadikan sentra budi daya ikan air tawar. Bahkan, ikan air tawar menjadi menu yang selalu ditawarkan kepada wisatawa, dengan harga Rp20.000 per porsi.

Di Desa Marente, juga terdapat wisata sejarah berupa situs Benteng Talbir, yang diyakini berasal dari peninggalan kerajaan Majapahit.

Tembok benteng itu tersusun dari batu berbentuk balok dengan panjang empat meter. Bentuknya, ada yang persegi panjang, ada yang segi lima, dan segi enam. Ketinggian tembok mencapai 10 meter dan panjangnya 200 meter. Untuk menjangkau situs tersebut, memerlukan waktu satu jam perjalanan dari desa. Dengan rincian, 45 menit mengendarai sepeda motor, lalu 15 menit selanjutnya berjalan kaki.

Riwayat Benteng Talbir, menurut Robby Sahrullah adalah desa yang hilang pada masa lampau. Konon, penduduknya menghilang. Tetapi kabar dari mulut ke mulut para pemburu rusa, mereka kerap mendengar suara adzan di tengah hutan, padahal tak ada seorang pun, “Mereka juga mendapati buah-buhan, tapi tak pohon buahnya,” ujar Robby.

Sungai Tiu Kele, yang mengalir dari air terjun itu, melintasi dekat Desa Marente, yang dimanfaatkan warga untuk river tubing. Foto: Robby Sahrullah

Selain situs Benteng Talbi, Desa Marente memiliki gunung berapi yang tak aktif lagi: Puncak Ngengas. Tingginya mencapai 1.873 meter di atas permukaan laut. Di lereng gunung itu, terdapat sungai dengan bebatuan besar, berdiameter lebih dari 2,5 meter. Jarak perjalanannya sekitar 7 – 8 jam dari Desa Marente.

Nur Faizura dari Al Ikhlas Travel & Tour SDN BHD Malaysia, mengatakan kepada panitia LTM VII – 2020, Desa Marente memiliki panorama indah dengan warga yang ramah. Menurutnya, produk kopi dan kayu kebo dari desa itu, rasanya luar biasa. Juga makanan lokalnya sangat enak, “Saya sangat senang menikmati masakan lauk pauk dan kue tradisional dari penduduk,” ujarnya.

author
No Response

Leave a reply "Desa Marente: Air Terjun yang Memikat dan Situs Majapahit"