Banten Wisata Budaya, Sejarah, Seni & ZIarah

Wisata Budaya, Sejarah, Seni & Ziarah

DN. Halwany

Wisata budaya, kini semakin mendapat tempat di hati wisatawan. Budaya selalu menjadi obyek wisata utama di seantero dunia. Namun sekitar tiga dasawarsa lalu, tren wisata budaya mulai terpecah, wisatawan mulai tertarik juga pada hasil peninggalan masa lampau yang menempel pada dinding-dinding bangunan di kota bersejarah, kota tua pada setiap negara yang mereka kunjungi. Tren wisata itu diberi nama heritage tourism atau cultural heritage tourism. Heritage, atau warisan berupa berbagai peninggalan dalam segala bentuk, penting bukan hanya sebagai sebuah identitas kota dan negara tapi juga bernilai ekonomi serta memberi dampak sosial. Budaya merekatkan manusia untuk menciptakan saling pengertian yang membawa pada kedamaian dan keharmonisan. Wisata heritage pada akhirnya juga membantu memelihara dan melestarikan heritage/warisan itu sendiri.

Di Banten terdapat peninggalan warisan leluhur yang sangat dihormati, antara lain Mesjid Agung Banten Lama, Makam keramat Panjang, Masjid Raya AL-Azhom dan beberapa peninggalan historis lainnya yang bernuansa religi. Latar belakang historis ini membuat mayoritas penduduk Banten memiliki semangat religius keislaman yang sangat kuat dan kental dengan tingkat toleransi yang tinggi. Sebagian besar masyarakat memang memeluk Islam, tetapi pemeluk agama lain dapat hidup berdampingan dengan damai. Dalam ukuran tertentu, Banten bisa menjadi salah satu contoh pluralisme agama di Indonesia. Kondisi sosial budaya masyarakat Banten diwarnai oleh potensi dan kekhasan budaya masyarakatnya yang sangat variatif, mulai dari seni bela diri pencak silat, debus, rudat, umbruk, tari saman, tari topeng, tari cokek, dog-dog lojor dan palingtung. Hampir semua seni tradisionalnya sangat kental diwarnai dengan etika Islam. Ada juga seni tradisional yang datang dari luar kota Banten, tapi semua itu telah mengalami proses akulturasi budaya sehingga terkesan sebagai seni tradisional Banten, misalnya seni kuda lumping, tayuban, gambang kromong dan tari cokek. Bahasa yang digunakan masyarakat Banten khususnya yang berada di wilayah utara menggunakan bahasa Jawa Serang, sedangkan di wilayah selatan menggunakan Bahasa Sunda Banten.

Namun demikian, Provinsi Banten juga terkenal dengan masyarakat tradisonalnya yang masih memegang teguh adat dan tradisi, baik cara berpakaian maupun pola hidup lainnya. Mereka dikenal dengan suku Baduy yang tinggal di desa Kanekes, Kabupaten Lebak, sekitar 65 km sebelah selatan ibukota Provinsi Banten. Pemerintah menetapkan kawasan cagar budaya Pegunungan Kendang seluas 5.101,85 ha di Kenekes sebagai tempat tinggal mereka. Daerah ini dikenal sebagai wilayah titipan nenek moyang mereka yang harus dipelihara dan dijaga dengan baik, tidak boleh dirusak, dan tidak boleh diakui sebagai hak milik pribadi. Meski kesenian di Banten banyak ragamnya, debus merupakan kesenian yang paling populer. Kesenian ini diciptakan pada abad ke-16, pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570).

Wisata Budaya - Orang Kanekes

Banten tak pernah kehabisan cerita. Provinsi yang baru di bagian barat tanah Jawa ini punya segudang potensi seni dan budaya pariwisata. Dari petualangan alam yang menantang, panorama yang mengundang decak kagum sampai keunikan budaya masyarakatnya. Tentu saja, semua itu bila digarap serius bisa jadi nilai tambah bagi perekonomian penduduk sekitarnya. Provinsi Banten memiliki masyarakat tradisional yang masih memegang teguh adat tradisi yang turun temurun yaitu Suku Baduy. Mereka ada di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak. Perkampungan masyarakat Baduy pada umumnya terletak pada daerah aliran sungai Ciujung di Pegunungan Kendeng, Banten Selatan. Letaknya sekitar 172 km sebelah barat ibukota Jakarta; sekitar 65 km sebelah selatan ibu kota Provinsi Banten. Jika mengunjungi masyarakat Baduy, pasti berdecak kagum melihat dengan kehidupan tradisional ini, bagi yang terbiasa hidup di kota metropolis, kehidupan yang sederhana itu terasa begitu primitif. Bayangkan, di sana tidak ada listrik dan pompa air. Jika sudah malam gelap gulita, yang ada hanyalah lampu templok. Berbicara dalam gelap buat mereka sudah biasa.

Perkampungan Baduy sebetulnya sudah terkenal dari sejak dulu. Tak jelas kapan pastinya, kehidupan masyarakat bersahaja ini, dijual sebagai wisata budaya dan petualangan. Baduy kebanyakan dijelajahi oleh para penggemar petualangan. Cerita soal Baduy memang menarik untuk diikuti. Konon, para ilmuwan, masyarakat Indonesia dan internasional menamakan kelompok penghuni di kawasan pegunungan Kendeng, Banten Selatan itu sebagai orang Baduy. Kata Baduy itu sendiri datang dari sebuah gunung yang bernama gunung Baduy dan mata air CiBaduy di selatan Kampung Kerdu Ketug, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar. Orang Baduy sendiri menamakan kelompok mereka dengan sebutan Orang Kanekes. Nama Kanekes berasal dari sungai Cikanekes yang mengalir di daerah itu. Ada dua kelompok penduduk di kawasan seluas sekitar 5.102 ha di Kabupaten Lebak itu. Yang terbesar, sekitar 7.000 jiwa. Kelompok ini disebut Urang Panamping (Orang Panamping, sebutan untuk Baduy Luar). Mereka tinggal di bagian utara wilayah baduy. Masyarakat ini menempati 28 kampung yang punya delapan anak kampung (babakan). Di bagian selatan, terdapat hunian orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai Urang Tangtu (Baduy Dalam). Pada tahun 2000, kelompok yang mendiami tiga buah kampung itu (Cikeusik, Cikartawana dan Cibeo) populasinya mendekati 800 jiwa. Orang Tangtu menyebut saudara-saudara mereka di bagian utara (yang ciri khas pakean hitam dan celana hitam, ikat kepala batik berwarna biru dan bercorak biru tua bergambar adu ayam) dengan Urang Kaluaran (orang yang dikeluarkan). Orang Kaluaran memanggil saudara mereka di bagian selatan sebagai Urang Girang.

Orang Baduy atau Urang Rawayan adalah sekelompok komunitas Sunda yang kebudayaannya dianggap kebudayaan minoritas (culture minority), sebab mereka dianggap oleh orang yang tidak tahu sebagai etnis minoritas. Baduy bukan etnis minoritas. Masyarakat Baduy adalah bagian dari etnis Sunda. Perubahan administratif suatu geografis tidak serta-merta menyebabkan etnis yang terpisahkan itu menjadi etnis Cina, Batak, Padang, dan lain-lain, sejauh kedua etnis terpisahkan oleh dinding administratif itu tetap terikat oleh filsafat, kesenian, bahasa, dan kepercayaan yang sama. Dan sampai hari ini, orang Baduy masih bertutur kata Sunda, berfilsafat Sunda, berkesenian Sunda, dan berkepercayaan Sunda. Orang Baduy adalah salah satu komunitas Sunda yang cerdas memelihara dirinya dari jerat-jerat kebudayaan eksogen yang dihasilkan lewat out breeding kebudayaan luar yang dibawa oleh individu-individu yang miskin kultural. Orang Baduy masih mampu memelihara identitas diri (self identity) etnisnya. Identitas diri atau jati diri adalah cara seseorang memandang, membayangkan, dan mencirikan dirinya. Identitas diri pada umumnya ditampakkan lewat cara seseorang berpakaian. Pakaian orang Baduy, sangat khas berciri etnik. Mereka tidak malu berpakaian tidak sebagaimana umumnya masyarakat sekelilingnya. Dan tak seorang pun di antara kita yang memandang rendah.

Kecuali orang Baduy, kita termasuk orang-orang yang kehilangan identitas dirinya. Bangsa-bangsa yang cerdas memelihara identitas dirinya di antaranya adalah bangsa India, bangsa Afrika, bangsa Cina, bangsa Melayu, dan bangsa Jepang. Bangsa-bangsa tersebut sekurang-kurangnya tetap memelihara identitas dirinya lewat caranya berpakaian. Dan bangsa Sunda, daripada berpakaian etnisnya, mereka lebih memilih pakaian model bangsa Arab, seperti gamis dan surban. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, masyarakat yang memiliki konsep inti kesederhanaan ini belum pernah mengharapkan bantuan dari luar. Mereka mampu secara mandiri dengan cara bercocok tanam dan berladang (ngahuma), menjual hasil kerajinan tangan khas Baduy, seperti Koja dan Jarog (tas yang terbuat dari kulit kayu Teureup); tenunan berupa selendang, baju, celana, ikat kepala, pernak-pernik, sarung serta golok/parang. Masyarakat Baduy bagaikan sebuah negara yang tatanan hidupnya diatur oleh hukum adat yang sangat kuat. Semua kewenangan yang berlandaskan kebijaksanaan dan keadilan berada di tangan pimpinan tertinggi, yaitu Puun atau Jaro. Puun atau Jaro bertugas sebagai pengendali hukum adat dan tatanan hidup masyarakat yang dalam menjalankan tugasnya itu dibantu juga oleh beberapa tokoh adat lainnya. Sebagai tanda setia kepada Pemerintahan RI, setiap akhir tahun mereka menggelar upacara Seba kepada Bapak Gede (Panggilan Kepada Bupati Lebak) dan Camat Leuwidamar. Pemukiman masyarakat Baduy berada di daerah perbukitan. Tempat yang paling rendah berada pada ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Sehingga dapat dibayangkan bahwa rimba raya di sekitar pegunungan Kendeng merupakan kawasan yang kaya akan sumber mata air yang masih bebas polusi. Lokasi yang dijadikan pemukiman pada umumnya berada di lereng gunung, celah bukit serta lembah yang ditumbuhi pohon-pohon besar, yang dekat dengan sumber mata air.

Wisata Sejarah – Kawasan Banten Lama

Mengunjungi kawasan wisata Banten lama memang boleh dibilang kunjungan wisata sejarah karena menyajikan peninggalan-peningalan sejarah dan memberikan gambaran-gambaran masa keemasan yaitu zaman kesultanan. Awal mula Banten tak bisa lepas dari keberadaan sebuah tempat yang dikenal dengan kawasan Banten Lama. Berada di wilayah Kasemen, di sana terdapat sejumlah bangunan yang mampu berbicara banyak mengenai masa keemasan hingga masa kehancuran. Dalam konteks sekarang, bangunan ini juga menjadi simbol kejayaan Banten masa lalu. Komplek Istana Surosowan, dulunya adalah keraton kesultanan pertama yang ada di Banten. Dibangun pada masa Sultan Maulana Hasanudin, keraton ini berdiri di areal seluas 3 hektar dan dikelilingi oleh tembok tinggi setebal 5 meter. Namun, ketika Belanda menguasai Banten, istana dihancurkan. Dan kini hanya temboknya yang tersisa. Tak jauh dari Istana Surosowan, dapat dijumpai bangunan lain yang dikenal dengan Mesjid Agung Banten. Mesjid yang masih berdiri kokoh ini masih digunakan sesuai dengan fungsinya sampai sekarang. Mulai didirikan pada masa sultan Banten pertama, mesjid ini merupakan mesjid kedua yang dibangun sultan dan menjadi ikon Banten Lama. Bangunan yang bergaya Eropa-Cina ini memiliki 4 bangunan di dalamnya, yakni bangunan utama (sebagai tempat ibadah) berbentuk segi 4 dengan atap bersusun 5, Tiyamah, menara dan makam di sisi utaranya. Bangunan Tiyamah sendiri berfungsi sebagai pelengkap dan dulu digunakan sebagai tempat bermusyawarah atau diskusi keagamaan. Di sebelah utara mesjid, terdapat beberapa makam tua dari keluarga kerajaan dan pengikut setianya. Makam ini masih ramai dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai pelosok.

Bangunan yang paling khas di kompleks ini adalah menara mesjid dengan tinggi sekitar 25 meter dengan arsitektur Cina yang sangat unik dan menarik perhatian. Anda bisa naik ke puncak menara melalui tangga sempit, selebar bahu, yang melingkari tubuh menara dan menikmati pemandangan sekitar Banten yang cantik serta perairan Selat Sunda yang eksotis dari puncaknya. Satu lagi bangunan penting di kawasan ini, yaitu Istana Kaibon yang berada di Kampung Kroya atau di sekitar pertigaan jalan menuju mesjid agung Banten Lama sebelah jembatan. Kaibon berasal dari kata 'keibuan', dulunya, istana ini dipakai oleh Ratu Aisyiah, ibu Sultan Syafiuddin yang mengungsi karena dihancurkannya Surosowan oleh pasukan Belanda. Tetapi, Istana Kaibon pun bernasib seperti saudara tuanya (Surosowan-red). Belakangan, Kaibon pun dihancurkan oleh Belanda. Sekarang, kondisi Kaibon sedikit lebih baik dari Surosowan. Pengunjung masih bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas bentuk istana ini secara menyeluruh. Tak jauh dari Surosowan, ada bangunan Benteng Speelwijk (Belanda) dan sebuah kelenteng Cina atau vihara yang sekarang bernama Avalokitesvara, yang juga menjadi saksi perjalanan sejarah Banten. Meski tinggal menyisakan tembok di bagian utaranya saja, dengan beberapa makam Belanda di sekitar kompleks atau yang dikenal dengan Kierkof, Speelwijk memiliki pesona lain untuk dinikmati. Sementara, kelenteng yang berdiri hanya beberapa puluh meter dari benteng, merupakan kelenteng tertua di Banten. Kelenteng yang berada di bibir pantai ini juga dianggap keramat karena tidak rusak sedikit pun walau diterjang gelombang tsunami besar akibat letusan Gunung Krakatau, 123 tahun lalu.

Wisata Seni - Debus

Setelah mengucapkan mantra “haram kau sentuh kulitku, haram kau minum darahku, haram kau makan dagingku, urat karang, tulang wesi, kulit baja, aku keluar dari rahim ibunda. Aku mengucapkan kalimat la ilaha illahu”. Maka pada saat itu juga ia menusukkan golok tersebut ke paha, lengan, perut dan bagian tubuh lainnya. Pada saat atraksi tersebut iapun menyambar leher anak kecil sambil menghunuskan goloknya ke anak tersebut. Anehnya bekas sambaran golok tersebut tidak meninggalkan luka yang sangat berbahaya bagi anak tersebut. Atraksi yang sangat berbahaya tersebut biasa kita kenal dengan sebutan Debus, Konon kesenian bela diri debus berasal dari daerah al Madad. Semakin lama seni bela diri ini makin berkembang dan tumbuh besar disemua kalangan masyarakat Banten sebagai seni hiburan untuk masyarakat. Inti pertunjukan masih sangat kental dengan gerakan silat atau beladiri dan penggunaan senjata. Kesenian debus Banten ini banyak menggunakan dan memfokuskan pada kekebalan seorang pemain terhadap serangan benda tajam.

Kesenian ini tumbuh dan berkembang sejak ratusan tahun yang lalu, bersamaan dengan berkembangnya agama islam di Banten. Pada awalnya kesenian ini mempunyai fungsi sebagai penyebaran agama, namun pada masa penjajahan Belanda dan pada saat pemerintahan Sultan Agung Tirtayasa. Seni beladiri ini digunakan untuk membangkitkan semangat pejuangan rakyat Banten melawan penjajahan Belanda. Karena pada saat itu kekuatan sangat tidak berimbang, Belanda yang mempunyai senjata yang sangat lengkap dan canggih. Terus mendesak pejuang dan rakyat Banten, satu satunya senjata yang mereka punya tidak lain adalah warisan leluhur yaitu seni beladiri debus, dan mereka melakukan perlawanan secara gerilya. Debus dalam bahasa Arab yang berarti senjata tajam yang terbuat dari besi, mempunyai ujung yang runcing dan berbentuk sedikit bundar. Dengan alat inilah para pemain debus dilukai, dan biasanya tidak dapat ditembus walaupun debus itu dipukul berkali kali oleh orang lain. Atraksi kekebalan badan ini banyak variasinya yang dipamerkan dalam pertunjukan debus. Antara lain, menusuk perut dengan benda tajam atau tombak, mengiris tubuh dengan golok sampai terluka maupun tanpa luka, makan bara api, memasukkan jarum yang panjang ke lidah, kulit, pipi sampai tembus dan tidak terluka. Mengiris anggota tubuh sampai terluka dan mengeluarkan darah tetapi dapat disembuhkan pada seketika itu juga, menyiram tubuh dengan air keras sampai pakaian yang melekat dibadan hancur, mengunyah beling/serpihan kaca, membakar tubuh. Dan masih banyak lagi atraksi yang mereka lakukan.

Dalam melakukan atraksi ini setiap pemain mempunyai syarat-syarat yang berat, sebelum pentas mereka melakukan ritual-ritual yang diberikan oleh guru mereka. Biasanya ritual dilakukan 1-2 minggu sebelum dilakukan pementasan. Selain itu mereka juga dituntut mempunyai iman yang kuat dan harus yakin dengan ajaran islam. Pantangan bagi pemain debus adalah tidak boleh minum minuman keras, main judi, bermain wanita, atau mencuri. Dan pemain juga harus yakin dan tidak ragu-ragu dalam melaksanakan tindakan tersebut, pelanggaran yang dilakukan oleh seorang pemain bisa berakibat membahayakan jiwa pemain itu sendiri. Menurut beberapa sumber sejarah, debus mempunyai hubungan dengan tarekat didalam ajaran islam. Yang intinya sangat kental dengan filosofi keagamaan, mereka dalam kondisi yang sangat gembira karena bertatap muka dengan tuhannya. Mereka menghantamkan benda tajam ketubuh mereka, tiada daya upaya melainkan karena Allah semata. Kalau Allah tidak mengijinkan golok, parang maupun peluru melukai mereka. Dan mereka tidak akan terluka. Pada saat ini banyak pendekar debus bermukim di Desa Walantaka, Kecamatan Walantaka, Kabupaten Serang. Yang sangat disayangkan keberadaan debus makin lama kian berkurang, dikarenakan para pemuda lebih suka mencari mata pencaharian yang lain. Karena memang atraksi ini juga cukup berbahaya untuk dilakukan, tidak jarang banyak pemain debus yang celaka karena kurang latihan maupun ada yang “jahil” dengan pertunjukan yang mereka lakukan. Sehingga semakin lama warisan budaya ini semakin punah. Dahulu kita bisa menyaksikan atraksi debus ini dibanyak wilayah Banten, tapi sekarang atraksi debus hanya ada pada saat event-event tertentu. Jadi tidak setiap hari kita dapat melihat atraksi ini. Warisan budaya ini mungkin saja makin lama makin tergerus oleh perubahan zaman.

Wisata Ziarah – Makaom Sultan Banten

Setiap tahun tercatat 12-13 juta orang berdatangan ke kawasan makom di Banten mereka datang dari berbagai daerah, baik dari luar maupun dari Banten sendiri. Kedatangan mereka selain untuk berwisata, juga untuk mendapat berkah di petilasan kerajaan ini. Biasanya di makom sudah ada yang menunggu untuk menziarahkannya (juru kunci) jika pengunjung mau diziarahkan, dengan mulut komat-kamit membaca doa secara cepat dan mimik wajahnya terlihat penuh pengharapan. Makam bagian utara dari mesjid, terdapat makam-makam dari beberapa sultan Banten dan keluarganya, diantaranya makam Maulana Hasanuddin dan isterinya, Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Abu Nashr Abdul Qahhar. Sedangkan didalam serambi kanan, yang terletak di selatan, terdapat pula makam-makam Sultan Maulana Muhammad, Sultan Zainul 'Abidin dan lain-lainnya.

Sumber Data :

Ambary, H.M., H. Michnob dan John N. Miksic, (1988),

Katalogus Koleksi Data Arkeologi Benten, Direktonat Perlindungan & Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Punbakala, Jakarta.

Halwany Michrob & Mujahid, Catatan Masalalu Banten, Percetakakan Saudara 1993

Halwany, Michrob, (1989), Catatan Sejarah & Arkeologi : Ekspor Impor di Zaman Kesultanan Banten, Kadinda Serang,

(1991), The Shift of The Karangantu-Market Site in Banten Lama

Halwany Michrob, 1981, Pemugaran dan Penelitian Arkeologi Sebagai Sumer Data Bagi Perkembangan Sejarah Kerajaan Islam Banten 1982, Sejarah Masuknya Islam Ke Banten

Hamka, 1967, Sejarah Umat Islam Jilid III

Hasan M. Ambary, 1981, Mencari Jejak Kerajaan Islam Tertua di Indonesia

Penulis Mang Dhepi

 

DEWAN PENGURUS DAERAH BANTEN

Alam Indah Blok DV No.17 Kec. Cipondoh
Kel. Poris Plawad Tangerang