Sekilas ASPPI

Pada tahun 1992, ketika system reservasi online Garuda Indonesia (ARGA) diimplementasikan di travel agent seluruh Indonesia, System reservasi tersebut memungkinan adanya komunikasi antar User melalui PNR (Pasenger Name Record). Dimasa itu belum ada sms, online chat dll seperti sekarang.

Intensitas chat melalui PNR tersebut dilakukan setiap hari dalam rangka saling membantu dalam pekerjaan serta memberikan masukan dan saran sebagai sesama staff , ticketing/reservation.dan front liner, yang akhirnya menimbulkan kedekatan, persahabatan yang tersebar diseluruh Indonesia.

Atas kedekatan komunikasi yang dilakukan setiap hari tersebut terbitlah keinginan untuk bertemu dan saling mengenal secara langsung.

Kelompok ini berkembang cukup pesat, serta memiliki ikatan persaudaraan yang kuat karena diikat oleh rasa senasib dan sepenanggungan sesama praktisi pariwisata.

Disaat krisis moneter melanda Indonesia, dimana pariwisata mengalami kelesuan, para pendiri TRASS berinisiatif untuk menyambung kembali silaturahmi yang sempat terputus melalui fasilitas mailing list, dengan tujuan menyatukan kekuatan para praktisi dalam meningkatkan kembali pariwisata Indonesia.

Perlahan namun pasti, ternyata komunikasi para members ini disambut positif oleh para pelaku pariwisata, dan dalam 1 tahun mailist ini dapat menjaring 500 anggota yang berasal dari seluruh Indonesia.
Pada tanggal 04 April 2008, di GWK Bali, seluruh member mailing list TRASS bertemu dan menandatangani deklarasi berdirinya sebuah organisasi bernama Asosiasi Pekerja Pariwisata Indonesia (ASPPI)

Pada MUNAS ke-1 (1-3 Aug 08) di Cisarua Bogor ASPPI disepakati perubahan nama menjadi Asosiasi Profesional Pariwisata Indonesia yang di syahkan melalui AD ART serta terbentuknya 14 DPD diseluruh Indonesia.
Dan pada MUNAS berikutnya disepakati perubahan nama menjadi Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI).
ASPPI adalah sebuah organisasi yang mengedepankan persahabatan dan persaudaraan dan bukan organisasi bisnis dan persaingan. Sesama anggota ASPPI memiliki ikatan rasa senasib dan sepenanggungan, saling asah asih dan asuh.

Kami menyebut diri kami “Tourism Soldier”